
Pasuruan, Selasa 21 April 2026 — Pelaksanaan upacara di lingkungan MTs/MA Unggulan Singa Putih berlangsung berbeda dari biasanya. Seluruh santri, dewan guru, serta civitas akademika tampil mengenakan busana batik dan kebaya, menghadirkan nuansa kultural yang kental dalam peringatan Hari Kartini.

Penggunaan batik dan kebaya bukan sekadar simbol seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya bangsa. Batik dikenal sebagai kain khas Indonesia yang dibuat melalui teknik perintangan warna menggunakan malam dan canting, menghasilkan pola yang sarat makna filosofis. Sementara itu, kebaya merupakan busana tradisional perempuan Indonesia yang mencerminkan keanggunan dan identitas nasional. Kehadiran kedua unsur budaya ini memperkuat pesan bahwa nilai perjuangan Kartini tidak dapat dipisahkan dari akar budaya bangsa.

Bertindak sebagai pembina upacara, Ibu Nikmatul Ula, S.Pd. menyampaikan apresiasi kepada panitia yang telah mempersiapkan kegiatan dengan baik. Dalam amanatnya, ia menekankan tiga pesan utama yang relevan dengan semangat perjuangan R.A. Kartini.
Pertama, ia mengingatkan bahwa Kartini adalah sosok yang memiliki semangat belajar luar biasa di tengah keterbatasan zaman. Hal ini menjadi refleksi bagi para santri agar tidak berkecil hati dalam menuntut ilmu di pesantren, karena justru di sanalah fondasi keilmuan, khususnya ilmu agama, dibangun dengan kuat.
Kedua, Kartini digambarkan sebagai muslimah tangguh yang tidak mudah menyerah. Sosoknya dinilai memiliki kemiripan dengan keteladanan Sayyidah Khadijah, terutama dalam keteguhan, kecerdasan, dan peran strategis perempuan. Dalam konteks ini, disampaikan pula bahwa perempuan adalah madrasatul ula, yakni sekolah pertama dan utama bagi generasi penerus.
Ketiga, Kartini merupakan figur pejuang yang memiliki cita-cita tinggi tanpa meninggalkan jati diri. Hal ini tercermin dalam karya monumentalnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, yang berisi kumpulan surat penuh makna tentang harapan, optimisme, serta perjuangan menuju kemajuan dan kesetaraan. Pesan tersebut sejalan dengan nilai yang terkandung dalam QS Al-Baqarah ayat 257, (مِنَ الظُّلُومَاتِ اِلَى النُّوْر) “dari kegelapan menuju cahaya”, sebagai simbol transformasi menuju kehidupan yang lebih baik.

Upacara ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga momentum reflektif untuk menanamkan nilai perjuangan, pendidikan, dan jati diri kepada seluruh santri. Semangat Kartini yang dihadirkan dalam balutan budaya diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk terus belajar, berjuang, dan berkontribusi bagi bangsa.

