
PASURUAN – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti halaman depan Asrama Putra SPM 2 Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin pada hari minggu, 21 Juni 2026. Pada hari itu, segenap civitas akademika menggelar acara Tasyakuran Kelulusan Santri MTs dan MA Unggulan Singa Putih Tahun Ajaran 2025/2026.Alhamdulillah, acara yang menjadi penanda selesainya masa studi para santri ini berjalan dengan lancar dan penuh makna. Namun, tahun ini menjadi momen yang berbeda dan cukup berat bagi seluruh civitas akademika Singa Putih.
Momen Haru Tanpa Sosok Tercinta
Tasyakuran tahun ini adalah acara kelulusan pertama yang dilaksanakan tanpa kehadiran pendiri sekaligus pengasuh tercinta, Alm. Romo KH. M. Syaifulloh Arif Billah, yang telah berpulang ke Rahmatullah pada 9 Februari 2026 lalu.
Kesedihan mendalam tampak jelas saat momen sungkem berlangsung. Ibu Nyai Hj. Ismatul Qudsiyah terlihat tak kuasa menahan air mata, mencerminkan betapa besar rasa kehilangan keluarga besar atas kepergian sosok yang menjadi teladan utama.

Meski begitu, semangat santri untuk tetap meneruskan perjuangan beliau tidak surut. Seluruh santri berkomitmen untuk senantiasa mengenang jasa, mengingat nasihat, dan mengamalkan ilmu serta amalan-amalan yang telah diijazahkan oleh Alm. Romo KH. M. Syaifulloh Arif Billah.

Pesan dan Amanat untuk Para Alumni
Dalam rangkaian sambutan, terdapat poin-poin penting yang ditekankan sebagai bekal para santri dalam melangkah ke jenjang kehidupan selanjutnya:
- Melek Teknologi: Santri harus cakap IT agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas.
- Percaya Diri: Tidak boleh minder atau rendah diri meskipun berstatus sebagai lulusan pesantren; santri memiliki potensi yang setara bahkan lebih.
- Akhlak ala Singa Putih: Kewajiban mutlak bagi setiap santri untuk mempertahankan karakter akhlak khas Singa Putih di mana pun berada.
- Syiar Agama: Diharapkan para alumni menjadi duta yang mampu membawa syiar agama dan syiar pesantren dengan santun dan berilmu.
- Menjaga Nama Baik SPM: Alumni diminta untuk terus menjaga nama baik pesantren serta istiqomah mengamalkan ajaran dari Alm. Romo Kyai dan Ibu Nyai.
- Muhasabah Diri: Pentingnya untuk selalu melakukan introspeksi diri serta menyadari tanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan selama hidup di ddunia
Karya Para Santri Kelas IX & Kelas XII
Dalam acara tasyakuran ini, madrasah memberikan apresiasi tinggi terhadap berbagai karya kreatif yang lahir dari dedikasi santri dalam kegiatan kokurikuler. Bukti nyata keunggulan santri Singa Putih yang tidak hanya religius, tetapi juga inovatif, terlihat melalui pelestarian kumpulan lagu karya Alm. Romo Kyai yang penuh nilai spiritual sebagai sarana dakwah dan penyucian jiwa, serta deretan Karya Tulis Ilmiah (KTI) hasil riset kritis santri sebagai bentuk penguasaan ilmu pengetahuan.

Selain itu, momen perpisahan ini semakin istimewa dengan diperkenalkannya antologi puisi karya Genara Imaniar Avisa, santri kelas XII MA. Kumpulan puisi tersebut sarat akan makna kehidupan dan curahan cinta mendalam kepada sang guru, yang menjadi kado perpisahan yang begitu indah bagi almamater. Seluruh karya ini menjadi simbol semangat berkarya santri yang akan terus hidup meski mereka telah melangkah keluar dari lingkungan pesantren.
Doa dan Harapan Wali Santri
Perwakilan wali santri, Ibu Ainun, bunda dari Maulana Nizar Rahman (Kelas 12) dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada pihak pondok atas bimbingan yang diberikan selama ini. Beliau juga memohon doa restu agar para lulusan dapat menjadi pribadi yang bermanfaat, serta memohonkan doa bagi Alm. Romo KH. M. Syaifulloh Arif Billah dan Ibu Nyai Hj. Ismatul Qudsiyah agar senantiasa diberikan keberkahan dan kesehatan.

Momen Haru dan Pesan Mendalam dari Santri
Salah satu momen yang paling menyentuh hati adalah pidato yang disampaikan oleh perwakilan santri, Shahara Bilqis Sholeh (Kelas IX MTs). Dengan suara terbata menahan haru, ia merefleksikan perjalanan mereka di pondok.
Shasa mengakui bahwa di awal kedatangannya, terasa sangat berat dan terasa menyakitkan karena “dipaksa” oleh orang tua untuk mondok. Namun, kini ia menyadari bahwa ketegasan Papa dan Mamanya adalah bentuk kasih sayang yang sesungguhnya. Ia mengenang pesan sang Papa untuk terus belajar berbicara, belajar menulis, dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Saya sangat sedih karena ditinggal oleh Alm. Romo KH. M. Syaifullah Arif Billah. Saya ingin sekali dibimbing oleh beliau hingga sukses, hingga menjadi manusia yang sebenarnya,” ungkap Shasa, yang seketika membuat suasana menjadi haru.
Ia pun mengajak teman-temannya untuk terus mengingat pesan dan amalan dari almarhum serta menjaga nama baik almamater. Di akhir pidatonya, ia memohon maaf atas segala kesalahan dan memohon ridho kepada Ibu Nyai, para guru, dan seluruh asatidz.

Tasyakuran ini bukan sekadar perayaan kelulusan, melainkan ajang penguatan janji santri untuk terus menjaga marwah pondok, meneruskan perjuangan Alm. Romo Kyai, dan menjadi pribadi yang tangguh di tengah masyarakat.
Selamat berjuang di medan pengabdian yang baru, wahai para santri! Teruslah bersinar dan membawa keberkahan bagi umat.
Penulis: Syarif Hidayatulloh, S. S.
Lokasi: Asrama Putra SPM 2 PP. Singa Putih Munfaridin
Tanggal: 22 Juni 2026

