
NGAJI KAMIS MALAM JUM’AT — Suasana khidmat menyelimuti kegiatan Ngaji Kamis Malam Jumat (26/02/2026) di Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin. Kegiatan Ngaji di pimpin oleh Gus Muhammad Silahullah Al Munfarid, S.H. Pada kegiatan tersebut, beliau melantunkan Syair yang berjudul “Lambange Pondok Singa Putih” yang sarat akan makna dan menjadi identitas spiritual pesantren. Syair ini tidak sekadar di lantunkan, tetapi ditegaskan kembali sebagai pedoman hidup dan arah perjuangan para santri dalam kerja keras membersihkan hati. Syair yang di lantunkan sebagai berikut:
“Lambange Pondok Singa Putih”
Lambange pondok singa putih
Kerja keras mbersihno ati
Toat marang dawuh e Gusti
Toat marang dawuh e Nabi
Lambange pondok singa putih
Niru lakune poro wali
Nyontoh ulama kang sufi
Mugi di pun ridhoi Gusti
Lambange pondok singa putih
Mbuang sifat takabur ing ati
Mbuang sifat sombong ing ati
Mbuang sifat drengki ing ati
Lambange pondok singa putih
Mbuang sifat iri ing ati
Mbuang sifat hasut ing ati
Mbuang sifat dholim ing ati
Lambange pondok singa putih
Mbuang sifat ujub ing ati
Mbuang sifat riya’ ing ati
Mbuang sifat syirik ing ati
Lambange pondok singa putih
Mbuang sifat goroh ing ati
Mbuang kabeh penyakit e ati
Istiqomah dzikir syirri
Lambange pondok singa putih
Istiqomah umroh lan haji
Kanggo belajar mbersihno ati
Lan nyuwun ridhone Allah kang suci
Dalam tausiyahnya, Gus Farid menegaskan bahwa syair tersebut merupakan pengingat utama makna lambang dari Pondok Singa Putih, yakni kerja keras membersihkan penyakit-penyakitnya hati seperti iri, dengki, hasut, sombong, takabur, hingga berbohong. Ia mengajak seluruh jamaah, khususnya di bulan Ramadhan kali ini, untuk menyucikan hati agar menjadi hamba yang diridhai Allah SWT.

Menurutnya, ketika hati itu suci dan bersih, maka Nur Allah SWT dan Nur Muhammad SAW akan menerangi kehidupan seseorang. Ia juga mengingatkan ajaran Romo Kyai agar seluruh santri senantiasa menjaga agar ruhaniyah mereka terhubung kepada Allah, dengan harapan memperoleh ridha-Nya. Ramadhan disebut sebagai momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah, sebab di bulan ini tidur bernilai ibadah, diam bernilai tasbih, doa dikabulkan, dan amal dilipatgandakan. Setiap detik menjadi kesempatan memperbaiki amal agar menjadi hamba sejati di mata Allah SWT, yakni hamba yang tidak mengejar dunia, melainkan justru dicari oleh dunia.
Pesan serupa disampaikan Pak Sholeh yang mengajak para santri untuk senantiasa menundukkan hati sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ia menekankan pentingnya mengosongkan diri dari kesombongan dan merasa paling benar. Sebagai ilustrasi, ia membagikan kisah seorang pengusaha kaya raya yang tetap rendah hati dan tunduk kepada Kyai, sebagai bukti bahwa kemuliaan lahir dari ketawadhuan.

Sementara itu, Ustadz Badrudin mengingatkan bahwa orang-orang yang wafat di jalan Allah tidaklah benar-benar mati, melainkan hidup tanpa batas. Ia juga mengisahkan dialog Nabi Musa AS dengan Allah dan menyampaikan bahwa umat Nabi Muhammad SAW memiliki keistimewaan yakni mendapatkan dua cahaya yang hadir dalam satu bulan, yakni cahaya Al-Qur’an dan cahaya Ramadhan.
Dalam pandangannya, puasa adalah momentum mengendalikan dua unsur utama dalam diri manusia: akal dan nafsu. Ramadhan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri menuju derajat yang lebih tinggi, yakni manusia yang mampu mengendalikan nafsu dan mengedepankan akal serta iman. Harapannya, seluruh jamaah dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Ngaji Kamis Malam Jumat kali ini tidak sekadar menjadi rutinitas pengajian, tetapi momentum penguatan nilai, pembersihan hati, dan peneguhan arah spiritual pesantren. Syair yang dilantunkan menjadi cermin sekaligus kompas, agar setiap langkah santri tetap tertuju pada upaya membersihkan hati dan meraih ridha Allah SWT. (27/02/2026)



