
Pasuruan – Suasana Ngaji Ahad Sore di Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin pada 17 Mei 2026 berlangsung penuh kekhusyukan. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memahami pentingnya keikhlasan dalam beribadah, menuntut ilmu, serta menjalani kehidupan. Materi kajian didasarkan pada QS Al-Bayyinah ayat 5 serta quote Buku Iling-Ilingan halaman 95 yang berbunyi, “Carilah ilmu yang tulus & ikhlas, supaya ilmunya bermanfaat.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk menyembah Allah SWT dengan penuh keikhlasan, istiqamah dalam menjalankan agama, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Nilai keikhlasan menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Melalui syair yang dilantunkan dalam kajian, jamaah diingatkan bahwa ikhlas bukan sekadar ucapan, melainkan kekuatan hati yang mampu menghilangkan rasa malas, putus asa, dan kejenuhan dalam beribadah.
Ikhlas iku ngilangno males e
Ikhlas iku ngilangno putus asa e
Ikhlas iku ngilangno kejenuhan e
Sehinggo biso ningkatno ibadah e
Penulis memandang bahwa pesan tersebut memiliki makna mendalam bagi kehidupan modern yang sering dipenuhi rasa lelah dan kehilangan arah. Keikhlasan menjadi energi spiritual yang membuat seseorang tetap kuat menjalani proses kehidupan tanpa mudah menyerah.

Kajian juga mengingatkan pentingnya istiqamah hingga akhir hayat. Dalam syair disebutkan agar manusia berhati-hati terhadap sikap yang hanya pandai berdoa namun tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebab keistiqamahan dalam kebaikan menjadi salah satu kunci keselamatan hidup.
Ati ati marang sing ahli ndungo
Sing ora tau nyoto
Tetep istiqomah sampak tuwo
Iku biso ndadekno hancur e perkoro
Selain membahas tentang ikhlas, kajian ini juga menanamkan nilai kecerdasan hidup, kasih sayang, serta pentingnya menjaga hati dari sifat syirik dan kesombongan. Hati manusia diibaratkan seperti pedang yang harus terus diasah agar tetap tajam dan bersih dari penyakit hati.
Ngesah ati ngelandepno pedang
Ngilangno syirik lan kesombongan
Ojok gampang ngeremehno perkoro
Supoyo urip gak sampak soro
Menurut penulis, syair tersebut menjadi pengingat bahwa kesombongan dan sikap meremehkan sesuatu sering kali menjadi awal kehancuran seseorang. Sebaliknya, kerendahan hati dan keikhlasan akan membawa manusia menuju kehidupan yang lebih mulia dan penuh keberkahan.

Dalam bagian akhir syair, jamaah diajak merenungi luasnya batin manusia yang bahkan lebih luas dibanding isi dunia. Oleh sebab itu, hidup harus ditata dengan sungguh-sungguh agar bernilai mulia di hadapan Allah SWT.
Luas e batin siro
Luweh luas ketimbang isine ndunyo
Mulo urip iki di toto
Urip sepisan bener bener mulyo
Ngaji Ahad Sore kali ini tidak hanya menjadi ruang menuntut ilmu, tetapi juga menjadi momen muhasabah untuk memperbaiki niat, menata hati, dan memperkuat keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Sebab pada akhirnya, kemuliaan hidup bukan diukur dari banyaknya harta atau kedudukan, melainkan dari seberapa tulus seorang hamba beribadah dan mengabdikan dirinya kepada Allah SWT.

