
Prigen – Menjelang matahari terbenam di hari Ahad (7/6/2026), suasana di area Pondok Pesantren Salaf Modern Singa Putih Munfaridin terasa begitu syahdu. Para santri dan jamaah berkumpul dalam majelis “Ngaji Ahad Sore”, sebuah rutinitas spiritual yang menjadi oase penyejuk jiwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan duniawi yang tak jarang menyesatkan.
Dalam majelis yang khidmat ini, pesan-pesan kehidupan disampaikan bukan sekadar melalui ceramah, melainkan melalui untaian syair penuh hikmah yang menyentuh relung hati terdalam. Pengajian sore ini menjadi pengingat bagi setiap insan bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan, sementara “rumah” sesungguhnya menanti di akhirat.

Menabung Bekal Sebelum Senja
Inti dari renungan sore ini menekankan pada urgensi persiapan. Hidup di dunia adalah kesempatan emas yang tidak bisa diulang; tidak ada tiket untuk kembali ke dunia setelah ajal menjemput. Sebagaimana bait syair yang bergema sore tadi: “Yen Kito ora due bekal, onok ing kubur bakal menyesal. Ora biso urip maneh, Mulo Kito Urip kudu beneh.”
Kekhawatiran akan nasib di alam kubur yang diibaratkan seperti “lautan luas” menjadi alarm bagi para jamaah. Jika tidak memiliki “perahu” amal yang cukup, manusia akan mudah terombang-ambing bahkan tenggelam dalam penyesalan. Oleh karena itu, majelis ini menekankan keseimbangan: kita diperbolehkan mengejar harta, namun haruslah diseimbangkan dengan kekayaan amaliah (amal saleh).

Memilih Jalan: Dunia yang Gelap atau Akhirat yang Terang?
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah orientasi hati. Pada kajian kali ini, ditegaskan bahwa dunia hanyalah alat, bukan tujuan. Bagi mereka yang pikirannya hanya terpaku pada gemerlap dunia, hatinya akan diselimuti kegelapan. Namun, sebaliknya, mereka yang memprioritaskan akhirat akan mendapatkan cahaya keimanan.
“Sopo sing bingung mikir akhirat, atine padang nuju toat”. Kalimat pada syair ini menjadi motivasi bagi para santri dan jamaah untuk senantiasa menata niat dalam setiap kerja keras yang dilakukan hingga akhir hayat. Kita diajak untuk terus “kerja keras membersihkan hati” dan bekerja keras dalam kebaikan, sebagai bentuk ketaatan yang tulus.

Menuju Insan Hebat Dunia-Akhirat
Ngaji Ahad Sore kali ini ditutup dengan ajakan untuk hidup bermanfaat. Menjadi orang hebat bukan hanya tentang jabatan atau tumpukan harta, melainkan tentang kemampuan menjaga ritme hidup agar seimbang antara dunia dan akhirat. Inilah kunci sesungguhnya untuk menggapai “surga” yang nyata.
Majelis berakhir dengan doa bersama, mengharapkan agar setiap langkah kaki yang hadir di lingkungan Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin sore ini dicatat sebagai amal jariyah yang menerangi jalan menuju keabadian. Semoga semangat untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat terus menyala di hati setiap santri dan jamaah. Aamin Ya Robbal Alamin.
Penulis: Syarif Hidayatulloh, S. S.


