
Pasuruan, 11 Februari 2026
Duka mendalam masih menyelimuti keluarga besar Yayasan Asadul Abyadh MTs/MA Unggulan Singa Putih atas wafatnya Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin, Romo KH. M. Syaifulloh Arif Billah, pada Senin, 9 Februari 2026.
Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang guru, melainkan perpisahan dengan sosok orang tua, pembimbing umat, sekaligus penjaga nilai-nilai keilmuan dan akhlak. Di mata para santri, jama’ah dan masyarakat, almarhum dikenal sebagai ulama kharismatik yang istiqamah menapaki jalan dakwah dan pendidikan, menanamkan ilmu dengan kesabaran, serta membimbing dengan keteladanan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sepanjang pengabdiannya, Romo KH. M. Syaifulloh Arif Billah menghadirkan pesantren bukan sekadar ruang belajar, melainkan pusat pembentukan karakter dan penyucian jiwa. Beliau kerap menegaskan bahwa perjuangan terbesar manusia bukan hanya menaklukkan dunia, melainkan membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti sombong, takabbur, iri hati, dan dengki.
Pesan itu sejalan dengan makna filosofis logo Singa Putih, yakni kerja keras membersihkan hati. Bagi beliau, kemurnian hati adalah fondasi kemajuan umat. Tanpa hati yang bersih, ilmu kehilangan keberkahannya.
Semangat perjuangan itu pula yang selalu beliau kobarkan melalui prinsip tegas: “Maju Wajib, Mundur Haram.” Sebuah semboyan yang bukan sekadar slogan, melainkan napas perjuangan dalam pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi.
Dalam berbagai kajian, beliau kerap mengutip pesan reflektif dari buku karya beliau sendiri, Iling-Ilingan Jilid I halaman 42:
“Bangunlah jiwamu, jasadmu, ilmumu, dan wawasanmu.”
Pesan tersebut bahkan menjadi penegasan terakhir dalam kajian Ahad sore yang beliau sampaikan satu minggu sebelum wafat. Kutipan itu beliau sandarkan pada firman Allah SWT dalam QS Al-Qashash ayat 88, sebagai pengingat bahwa segala sesuatu akan kembali kepada-Nya, dan yang abadi hanyalah nilai-nilai kebaikan yang dibangun atas dasar keimanan.
Kini, sosok penuntun itu telah kembali ke hadirat Ilahi. Namun nilai-nilai yang beliau tanamkan kerja keras membersihkan hati, membangun jiwa dan ilmu, serta pantang mundur dalam kebaikan akan terus hidup dalam denyut nadi pesantren. Jejak langkahnya terasa di setiap sudut asrama, di ruang-ruang kelas, dan dalam jiwa para santri yang pernah disentuh nasihatnya.
Keluarga besar Yayasan Asadul Abyadh memanjatkan doa agar Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, menerima seluruh amal ibadah almarhum, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga, santri, dan seluruh jamaah yang ditinggalkan diberi keteguhan, keikhlasan, dan kekuatan.
Langit pesantren mungkin berduka, namun cahaya ilmu dan keteladanan yang telah beliau nyalakan tak akan pernah padam. Ia akan terus menyala dalam jiwa-jiwa yang memilih untuk maju dan tak pernah mundur dari perjuangan kebaikan.







