
NGAJI AHAD SORE – Pengajian pada ahad sore yang dipimpin oleh Gus Farid berlangsung dalam suasana khidmat dan reflektif. Dalam pandangan penulis, kajian tersebut tidak sekadar rutinitas keagamaan, melainkan momentum membangun kesadaran spiritual tentang pentingnya tauhid dan makrifatullah sebagai fondasi hidup seorang hamba. Berpijak pada Al-Qasas ayat 88 serta kitab Iling-Ilingan halaman 42 dengan pesan mendalam “Bangunlah jiwamu, jasadmu, ilmumu, dan wawasanmu”, Gus Farid mengajak jamaah menata ulang orientasi hidup agar tidak terjebak pada kelalaian duniawi.
Melalui syair yang sarat makna, para jamaah diajak merenungi hakikat kehidupan bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Allah SWT. Syair tersebut dilantunkan apa adanya sebagai berikut:
Allah kang moho nentokno
Kabeh cuma balek nang Allah
Mulo ojok sampak sembrono
Urip ono ing alam dunyo
Mulo pahamono agomo
Supoyo urip kito mulyo
Ben slamet dunyo akherote
Biso ketemu pengerane
Ojok nyembah kejobo Allah
Ojok nyembah kang lio
Allah kang moho kuoso
Kang nyiptakno kabeh perkoro
Ora ono kang khaq disembah
Kejobo Allah Ta’ala
Kabeh bakal rusak sedoyo
Kejobo Allah kang moho mulyo
Supoyo batine padang
Ilang songko kegelapan
Biso nuju kemakrifatan
Klawan oleh ridhone pengeran
Uripe di toto temenan
Biso dikir klawan temenan
Selalu nyambung atine
Muji marang pengerane
Terus dijogo atine
Ora sampak lali pengerane
Terus dijogo toate
Patuh tunduk marang pengerane
Dari pesan tersebut, penulis menangkap penegasan bahwa manusia sebagai hamba Allah memiliki tanggung jawab utama menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hidup di dunia tidak boleh sembrono, sebab seluruhnya akan kembali kepada Allah SWT. Tauhid menjadi inti ajaran, sebagaimana ditegaskan pula dalam Surah Al-Fatihah ayat kelima Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn, komitmen total untuk menyembah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah.


Disamping itu, penulis memahami bahwa pentingnya membersihkan hati sebagai ikhtiar agar hidup senantiasa dalam penjagaan Allah. Memperbaiki kualitas shalat, menjaga istiqomah dalam dzikir dan pengajian, serta terus bermuhasabah ketika doa belum dikabulkan menjadi jalan menuju kemakrifatan. Apabila doa terasa belum terijabah, itu bukan tanda Allah jauh, melainkan isyarat bahwa ada yang perlu diperbaiki pada diri sendiri.
Dalam kajian itu pula disampaikan sebuah kisah seorang santri yang mendapat tugas dari gurunya untuk mencari tiga bendel uang baru pecahan Rp1.000 dalam waktu tiga hari. Karena meremehkan amanah tersebut, ia hanya berhasil memperoleh satu bendel uang baru dan dua bendel uang lama dari pasar. Peristiwa sederhana itu menjadi pelajaran konkret agar tidak meremehkan tugas guru. Pada akhirnya, santri tersebut menyadari kekeliruannya dan memohon maaf, sebuah bentuk pendidikan karakter yang mengedepankan ketawadhuan.



Dalam konteks kehidupan modern, manusia kerap merasa mampu menentukan segalanya, padahal hakikatnya Allah-lah yang Maha Menentukan. Ikhtiar manusia hanyalah bagian kecil dari ketetapan-Nya. Di penghujung tausiyah, ditegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah memperdalam ilmu agama, mendidik generasi agar mengenal Allah sejak dini, membiasakan dzikir, serta menata hidup sesuai syariat. Manusia memang tempat salah, namun tidak boleh berhenti istiqomah dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri.


Sebagai penutup, penulis memandang rangkaian nasihat tersebut sebagai ajakan menyeluruh untuk menomorsatukan akhirat, menundukkan ego duniawi, dan menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah SWT, serta bermuara pada satu tujuan: kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat (01/03/2026).



