
Pasuruan — Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin kembali menggelar kegiatan rutin Ngaji Jumat Malam Sabtu pada Jumat (28/08/2026). Dalam pengajian mingguan kali ini, Gus Farid selaku pengasuh ponpes menyampaikan pesan mendalam melalui syair reflektif yang menyoroti pentingnya sinkronisasi antara identitas keislaman dan pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Koreksi Diri: Ketika Ritual Belum Mampu Membersihkan Hati
Kegiatan yang diikuti oleh para santri dan jamaah ini diawali dengan evaluasi spiritual yang tajam. Pengasuh mengingatkan bahwa rutinitas peringatan hari besar seperti Maulid Nabi yang dilakukan setiap tahun tidak akan berdampak signifikan jika tidak mampu meningkatkan kualitas iman dan membersihkan hati dari sifat tercela.
“Maulud an tahun tahunan, Ora biso ningkatno iman. Hormat Nabi sampak mati, Isik ora biso bersihno ati.“
Melalui bait tersebut, para santri diajak untuk merenungkan kembali esensi beragama. Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diwujudkan lewat seremonial semata, melainkan harus tercermin dari kebersihan hati dan keluhuran akhlak.

Tantangan Moral dan Pentingnya Tobat Nashuha
Lebih lanjut, syair tersebut menyoroti fenomena kontradiktif di masyarakat modern, di mana seseorang mengaku beragama Islam namun masih sering melanggar aturan agama dan terbiasa dengan kemaksiatan. Pengasuh menegaskan agar para santri senantiasa waspada dan bersungguh-sungguh dalam menjaga status keimanan agar benar-benar diakui sebagai umat Rasulullah SAW di akhirat kelak.
Semangat Beragama: Hidup jangan setengah-setengah agar derajat di sisi Allah SWT menjadi agung.
Tobat Tepat Waktu: Memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bertobat secara sungguh-sungguh sebelum datangnya kesusahan.
Kecerdasan Spiritual: Memperbanyak zikir dan menanamkan sikap legowo (lapang dada) dalam menghadapi berbagai perbedaan di tengah dinamika kehidupan.
Meneladani Al-Qur’an dan Pedoman Hidup
Sebagai penguatan materi, pengasuh merujuk pada Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 208, yang menyerukan kepada orang-orang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), serta menghindari langkah-langkah setan. Pesan ini juga diselaraskan Buku Iling-ilingan halaman 143 yang berbunyi:
“Semoga kita tidak terus menambah kesalahan, supaya hidup ini bisa dicintai yang maha menciptakan“
Melalui kegiatan Ngaji Jumat Malam Sabtu ini, Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin berharap para santri mampu mentransformasikan ilmu yang didapat menjadi amal nyata, sehingga kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama.
Penulis : Syarif Hidayatullah, S. S
Tanggal : 28 Agustus 2026



