
Pasuruan — Suasana Ngaji Jumat Malam Sabtu di lingkungan Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin pada Jumat, 15 Mei 2026 berlangsung penuh kekhusyukan. Kajian malam itu mengangkat tema besar tentang pentingnya menjaga hati melalui dzikir, ketenangan jiwa, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Landasan kajian diambil dari QS Al-Fatihah ayat 5–7 serta kutipan dalam Buku Iling-Ilingan halaman 42 yang berbunyi, “Bangunlah Jiwamu, Jasadmu, Ilmumu, & Wawasanmu.”
Makna Dzikir dan Ketenangan Hati
Melalui syair-syair penuh makna, para jamaah diajak memahami bahwa hati manusia tidak akan menemukan ketenangan sejati kecuali dengan dzikir kepada Allah. Dzikir tidak hanya sekadar diucapkan, tetapi harus dipahami, dihayati, dan dinikmati dengan penuh keikhlasan. Dalam syair disebutkan:
Cuma dzikir kang biso nemang no ati
Dzikir di pahami dan di nikmati
Dzikir ora kesusu susu
Di tepatno lungguh kang tuhu
Syair tersebut menggambarkan bahwa dzikir memerlukan ketenangan lahir dan batin. Tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan dengan kesungguhan hati agar mampu menghadirkan rasa tenteram dalam diri. Ketika hati mulai tenang, fokus, dan mampu menerima segala ketentuan Allah dengan ikhlas, maka seorang hamba akan memperoleh kedamaian hidup.
Inti Kajian: Menata Hati
Penulis melihat bahwa inti dari keseluruhan kajian malam itu adalah ajakan untuk terus menata hati. Hati yang bersih tidak lahir secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang untuk menundukkan ego, menjaga keikhlasan, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Hal tersebut tergambar dalam bait syair:
Atine terus di toto
Atine terus di tunduk no
Atine terus di urip no
Supoyo atine biso ketoto
Makna mendalam dari bait tersebut mengajarkan bahwa hati harus senantiasa “dihidupkan” dengan ibadah, dzikir, dan kesadaran spiritual. Hati yang hidup akan lebih mudah diarahkan menuju kebaikan, sedangkan hati yang lalai akan mudah dipenuhi kegelisahan dan hawa nafsu.
Kebersihan Hati: Kunci Masa Depan
Kajian ini juga menegaskan bahwa kebersihan hati menjadi kunci utama masa depan seorang hamba. Dalam syair disebutkan bahwa hati yang bersih, tulus, dan tidak dipenuhi kepalsuan akan membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih terarah dan penuh cahaya.
Yen atine biso bersih
Yen atine ora basa basi
Yen atine biso padang
Atine ketoto sampak masa depan
Pesan tersebut seolah menjadi pengingat bahwa kemuliaan hidup bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan atau kedudukan duniawi, tetapi oleh sejauh mana hati seseorang tetap terhubung kepada Allah SWT. Sebab hati yang dekat kepada Allah akan lebih mudah menerima petunjuk, ketenangan, dan keberkahan hidup.
Penutup dengan Harapan
Dalam suasana yang hening, jamaah juga diajak memahami pentingnya menjaga hati agar tetap luas, lapang, dan tidak mudah “ambyar” oleh persoalan dunia. Hati harus dijaga dengan kesabaran, keikhlasan, dan sikap legawa agar mampu menjadi hati yang mulia.Puncak dari seluruh pesan kajian malam itu terangkum dalam bait penutup syair:
Di jogo ati ne ben nyenden Alloh
Di jogo ati ne ben nyambung Alloh
Di jogo ati ne ben nyantol Alloh
Supoyo dadi wong kang mulyo
Bagi penulis, bait tersebut bukan sekadar rangkaian syair, melainkan doa dan nasihat mendalam bagi setiap manusia agar senantiasa menjaga hubungan hati dengan Allah SWT. Sebab ketika hati sudah “nyambung” kepada Allah, maka hidup akan lebih terarah, ibadah terasa lebih nikmat, dan langkah kehidupan menjadi lebih tenang.Kajian malam itu kembali menegaskan bahwa perjalanan seorang santri bukan hanya tentang memperdalam ilmu, tetapi juga tentang membangun jiwa, memperbaiki hati, serta menjaga istiqomah agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.

